Aku masih tersenyum bahagia atas apa yang kulewati semalam bersamamu, kamu mampu membuatku terjatuh dipelukanmu. Aku menyukaimu dan saat bersamamu itulah bahagiaku. Kau genggam erat tanganku, kau kecup bibir ini, kau bisikan I Love You ditelingaku. Kamu buatku tak berdaya, kamu buatku tak mampu berkata, kamu berkuasa semalam, kamu lelakiku dan aku wanitamu yang sedang kau manjakan.
Pantai ini jadi saksi bisu atas apa yang kita lewati, disini ketika aku dibuat tak berdaya olehmu.
Kamu ajak aku bersepeda ditepi pantai, kamu buatku tertawa bahagia. Setelah lelah berputar-putar akhirnya kamu menyerah mengajakku ketepian. Kita saling memandang, kita duduk diatas sepeda motor yang sama merasakan udara malam, menatap langit yang penuh bintang, memandang pantai yang membentang kamu peluk aku dari belakang.
Kita saling menuliskan nama diatas pasir yang sama, kita saling berkejaran bermain air dan saling membasahi. Aku menikmati setiap kebersamaan kita, yang kurasakan berbeda nyaman ketika berada dipelukmu. Meski sebenarnya perkenalan kita baru dimulai juga hubungan ini.
Aku tidak melihatmu sebagai orang asing, meski kenyataannya kita memang orang asing yang belum lama kenal, yang kurasa kamu lelakiku yang kumiliki bertahun-tahun lamanya, kamu melengkapi hidupku. Dan aku percaya kamu memang diciptakan untukku. Selalu kupanjatkan doa agar kebersamaan kita tetap terjaga, selalu kuberharap agar kita selalu bersama.
Kita berjarak untuk beberapa hari sebab kamu pulang ke kotamu, aku tidak berpikir jelek tentangmu, aku percaya karna rasa nyaman yang aku rasa. Nyatanya aku keliru, 2hari tak ada kabar darimu, kamu menghilang. Aku mencoba menghubungimu tapi sia-sia, percuma sebab aku tak temukan jejakmu. Aku terdiam, membisu dengan pikiran buntu. Aku dilema yang kurasa tak karuan, bahagia juga derita. Bahagia karna masih mengingat yang kita lewati, derita karna pengabaianmu. Diammu adalah siksa untukku.
Seperti menelan pil pahit aku harus terima pengakuan, kenyataannya kamu telah berdua. Aku terjatuh, aku terpuruk, aku tersudutkan, aku tak mampu berdiri, aku lemah hatiku patah. Aku tak tahu lagi apa yang harus kulakukan, kenyataan ini menyisakan luka dihati, Mata ini tak mau berhenti menangis, hati seperti tertusuk belati, mulut bungkam tak mampu berkata, satu yang ada dibenakku KAMU KEJAM.
Ketika rasa nyaman mampu membuat lupa, kamu melupa seolah-olah hanya aku saja yang kamu cinta, nyatanya seseorang diujung sana memilikimu seutuhnya, kamu kembali meninggalkanku seorang diri.
Kamu melupa karna rasa nyaman yang kuberi, kamu melupa dan kamu berpura-pura cinta, kamu berpura-pura dan aku menjerit menderita. Terimakasih seseorang yang melupa dan menyisakan luka, semoga yang kamu rasa berbeda tidak seperti aku yang menderita.
Kamis, 10 September 2015
Ketika Rasa Nyaman Mampu Membuat Lupa
Langganan:
Komentar (Atom)