Minggu, 15 November 2015

Lelah hati

Sesak rasanya jika yang diharap mengerti ternyata tidak pahami maksud hati
Terimakasih untuk 2tahun ini
Terimakasih untukmu yang beri bahagia meski terselip luka
Terimakasih untuk hari terberat ini
Terimakasih untuk airmata pagi ini
Bukan maksud hati memancing emosi, hanya saja lelah hati ingin dimengerti

Selasa, 13 Oktober 2015

Aku menyerah, aku kalah

Aku menyerah, aku kalah perihal rindu yang selalu datang tanpa bisa kutahan. 2 minggu sudah kita saling berjauhan tanpa bicara meski saling menatap dari jauh. Aku masih tetap saja memperhatikanmu meski kamu tak pedulikanku. Aku masih mencarimu jika tak kutemui dirimu. Aku kehilanganmu sungguh, tak ada lagi warna disetiap hariku. Kini kamu menjauh tak bisa kusentuh tak dapat kutatap.
Apa mungkin kamu mengamini ucapanku waktu itu yang kan berusaha berjarak denganmu. Nyatanya aku yang kalah, aku menyerah, rindu ini menyiksa.
Tuan jujur saja kenyataannya aku tidak bisa berjarak denganmu. Entahlah... Tapi didekatmu semua terasa indah, didekatmu beban hidup terasa lebih ringan, didekatmu airmata mampu kutahan.

Sore itu aku ingin sekali menyapamu, meski hanya sekedar berkata "Hai.." bisa saja dengan sapaan singkatku kita bicara lebih jauh lagi, aku yang menanyakan bagaimana keadaanmu dan berita tentangmu yang katanya sampai masuk rumah sakit juga denganmu yang menanyakan bagaimana denganku tanpamu 2minggu ini. Nyatanya kamu tidak menyapaku lebih awal juga denganku yang hanya menunggu sapaanmu. Kamu menatap tanpa bicara, sedangkan aku yang pura-pura tidak melihatmu dan sibuk dengan kerudungku. Kita duduk diwarung yang sama tetapi beda ruang. Aku menunggumu menghampiri nyatanya kamu mendiamkanku sampai aku pergi.
Aku tahu kamu baru sembuh dari penyakitmu, aku tahu kamu masuk rumah sakit sampai harus dirawat, ketika aku tahu rasanya aku ingin sekali menjengukmu, aku ingin menemanimu, aku ingin merawatmu sampai kamu sembuh dari sakitmu, sampai kamu beraktivitas lagi seperti biasanya.
Tapi apa daya aku bukan siapa-siapa sebab disana ada yang lebih berhak akan dirimu, disana ada seorang istri yang mencintaimu dan sedang mengandung benihmu. Sedangkan aku bukan siapa-siapamu. Aku hanya wanita yang kamu bohongi juga kamu tinggalkan, aku hanya wanita yang masih menjaga rasa, hati yang kamu lukai. Sebab tak ada arti merawat rasa yang sudah tak berasa, sebab percuma semua telah berlalu dan hanya bekaskan luka.
Jikapun aku bisa meminta pada Allah, aku ingin menghapus namamu dalam ingatanku, aku ingin melupakan semua kenangan yang telah berlalu bersamamu. Sebab disini aku yang menderita karna rindu dan rasa yang seharusnya sudah tidak aku rasa. Sebab kenyataannya lebih sakit dari mimpi yang pernah kita ukir.
Kenangan itu selalu datang begitu saja tanpa aku ingini, ia mampu meluluhkan lagi hati, ia mampu membuat mata menetes dan terus berurai, ia mampu hadirkan lagi sakit seperti pertama kali ditinggalkan, ia kejam sama sepertimu.

Kamis, 10 September 2015

Ketika Rasa Nyaman Mampu Membuat Lupa

Aku masih tersenyum bahagia atas apa yang kulewati semalam bersamamu, kamu mampu membuatku terjatuh dipelukanmu. Aku menyukaimu dan saat bersamamu itulah bahagiaku. Kau genggam erat tanganku, kau kecup bibir ini, kau bisikan I Love You ditelingaku. Kamu buatku tak berdaya, kamu buatku tak mampu berkata, kamu berkuasa semalam, kamu lelakiku dan aku wanitamu yang sedang kau manjakan.
Pantai ini jadi saksi bisu atas apa yang kita lewati, disini ketika aku dibuat tak berdaya olehmu.
Kamu ajak aku bersepeda ditepi pantai, kamu buatku tertawa bahagia. Setelah lelah berputar-putar akhirnya kamu menyerah mengajakku ketepian. Kita saling memandang, kita duduk diatas sepeda motor yang sama merasakan udara malam, menatap langit yang penuh bintang, memandang pantai yang membentang kamu peluk aku dari belakang.
Kita saling menuliskan nama diatas pasir yang sama, kita saling berkejaran bermain air dan saling membasahi. Aku menikmati setiap kebersamaan kita, yang kurasakan berbeda nyaman ketika berada dipelukmu. Meski sebenarnya perkenalan kita baru dimulai juga hubungan ini.
Aku tidak melihatmu sebagai orang asing, meski kenyataannya kita memang orang asing yang belum lama kenal, yang kurasa kamu lelakiku yang kumiliki bertahun-tahun lamanya, kamu melengkapi hidupku. Dan aku percaya kamu memang diciptakan untukku. Selalu kupanjatkan doa agar kebersamaan kita tetap terjaga, selalu kuberharap agar kita selalu bersama.
Kita berjarak untuk beberapa hari sebab kamu pulang ke kotamu, aku tidak berpikir jelek tentangmu, aku percaya karna rasa nyaman yang aku rasa. Nyatanya aku keliru, 2hari tak ada kabar darimu, kamu menghilang. Aku mencoba menghubungimu tapi sia-sia, percuma sebab aku tak temukan jejakmu. Aku terdiam, membisu dengan pikiran buntu. Aku dilema yang kurasa tak karuan, bahagia juga derita. Bahagia karna masih mengingat yang kita lewati, derita karna pengabaianmu. Diammu adalah siksa untukku.
Seperti menelan pil pahit aku harus terima pengakuan, kenyataannya kamu telah berdua. Aku terjatuh, aku terpuruk, aku tersudutkan, aku tak mampu berdiri, aku lemah hatiku patah. Aku tak tahu lagi apa yang harus kulakukan, kenyataan ini menyisakan luka dihati,  Mata ini tak mau berhenti menangis, hati seperti tertusuk belati, mulut bungkam tak mampu berkata, satu yang ada dibenakku KAMU KEJAM.
Ketika rasa nyaman mampu membuat lupa, kamu melupa seolah-olah hanya aku saja yang kamu cinta, nyatanya seseorang diujung sana memilikimu seutuhnya, kamu kembali meninggalkanku seorang diri.
Kamu melupa karna rasa nyaman yang kuberi, kamu melupa dan kamu berpura-pura cinta, kamu berpura-pura dan aku menjerit menderita. Terimakasih seseorang yang melupa dan menyisakan luka, semoga yang kamu rasa berbeda tidak seperti aku yang menderita.

Sabtu, 29 Agustus 2015

Noda Diatas Lembar Putih

Aku belum siap untuk mengakhiri hubungan yang tak jelas ini. Bodoh memang, aku memang bodoh, bodoh sekali. Aku masih tetap saja berusaha tetap tinggal dalam lingkaran ini; masalalu. Aku terlalu takut untuk menyudahi rasa ini sebab aku takut jika suatu saat nanti aku benar-benar kehilanganmu, tak dapat kutemui lagi senyummu juga bahagiamu. Aku takut kehilangan pelukmu yang mampu tenangkan aku, aku takut kehilangan pundakmu yang selalu bersedia menjadi tempat kubersandar, aku takut kehilangan genggaman tanganmu yang selalu menjadi penyemangat untukku. Aku takut kehilanganmu yang padahal kini aku memang sudah kehilanganmu. Aku kehilangan cintamu, mimpi untuk bersamamu, dan aku sudah tidak berhak perjuangkanmu sebab kamu telah jadi miliknya seseorang yang kamu sebut istri.
Aku tahu cincin yang melingkar dijari manismu itu pertanda bahwa kamu telah berdua, tapi aku seolah-olah tidak ingin tahu sebab aku terlanjur mencinta. Kehilafan itu menjadi cambuk untukku, aku tidak bisa berlari menjauh darimu, sering kali kucoba tapi tetap saja aku ingin kembali. Jiwaku seperti terikat olehmu, ragaku tak ingin pergi menjauh darimu.
Yang kurasa kita masih saling memiliki, meski kutahu itu hanya mimpi. Kebersamaan kita terulang, entah sampai kapan? Entah siapa nantinya yang kan sakit hati, juga entah siapa yang meninggalkan luka. Aku tidak peduli perihal itu, yang kurasa kini hanya kenyamanan berada disisimu lagi, kamu seolah-olah membawaku kembali pada masa dimana hanya ada aku dan kamu. Jika sudah begini rasanya hanya aku saja yang memilikimu, bersamamu waktu terasa cepat berlalu.
Aku tidak ingin disebut perempuan penggoda, aku tidak ingin disebut perempuan perusak sebab kamu yang mendekatiku lagi, kamu yang membawaku kembali, kamu yang ingin mengulang padahal sebenarnya aku sudah tidak sanggup mengenang sebab kisah ini telah berlalu dan takkan terulang tapi rasa sayang kan tetap menetap tinggal.
Menyenangkan rasanya berada disampingmu lama-lama, tapi aku benci ketika kamu membahas dia dalam perbincangan kita, rasanya aku ingin berlari saat itu juga daripada harus mendengarkan celotehanmu yang menyayat hati. Waktu bersama hanya sebentar kenapa tak coba membahas yang buatku terlena. Kenapa harus membahas istrimu, sengajakah supaya aku sadar? Bukan seperti itu untuk menyadarkanku tuan, bukan dengan membahas istrimu sebab tanpa kamu membahasnya aku sudah sadar dan mengerti. Aku cukup tahu diri, aku hanya orang asing yang mencoba masuk kedalam kehidupanmu tak semestinya berbagi hati denganmu. Aku tahu pada akhirnya kamu kan mencampakanku lagi, sama seperti dulu. Aku tahu pada akhirnya kamu kan meninggalkanku lalu kembali pada istrimu. Aku tahu pada akhirnya kamu kan bekaskan luka dan kenangan, dan pada akhirnya aku mengerti aku hanya noda diatas lembar putih.

Rabu, 19 Agustus 2015

Kamu Abadi Dalam IngatanKu

Inilah titik terbawahku, dimana aku hanya mengutamakan rasa tanpa berpikir memakai logika, melihat tanpa mau mendengar, berjalan mundur kebelakang; Masalalu.
Lucu memang, tapi ini nyata. Ini tentang rasa yang masih kurasa, ini tentang hati yang masih mencinta, ini tentangmu, semua tentangmu dan akan selamanya tentangmu.
Semua ini seakan-akan masih duniaku; masalalu. Aku tidak pernah bisa berlari dari kenyataan yang selalu membawaku kembali. Ini hati yang masih mencinta walau tersakiti, ini jiwa yang masih berharap pelukmu yang sudah pasti takkan kudapati, ini mimpi yang berharap hanya kamu yang kumiliki, ini kisah yang takkan terulang kembali.
Kini kamu dengan duniamu; kehidupanmu. Tidak halnya dengan aku, aku seakan berada didua dunia, masalalu bersamamu dan saat ini bersamanya.
Kisah ini memang telah usai, tapi kamu abadi dalam ingatanku, kamu no satu dipikiranku. Kamu penyemangatku, inspirasiku, duniaku sekaligus yang menjatuhkanku. Kamu bisa buatku tak mampu berkata sampai semua kutuliskan dalam coretan-coretanku, andai bahagia yang kurasa tak mungkin aku berbagi cerita yang menguras airmata, andai luka tak pernah kurasa takkan ku menulis dengan berurai airmata.
Pahamilah. Rasa ini tak mampu kuartikan lagi, cinta ini terlalu sakit kurasa. Katanya cinta itu indah, tapi kenapa yang kurasa berbeda, menyesakkan. Atau karna aku salah berbagi rasa; mencintaimu yang telah berdua.
Aku sadar, aku tahu semua takkan terulang. Hubungan yang baru seumur jagung kau tinggalkan, wanita yang terlanjur mencinta kau campakkan, mimpiku tentangmu kau hancur leburkan. Kamu takkan mengerti rasa sakit ini, berjalan sendiri mencari kepingan hati, kamu yang aku mau.
Kamu yang tak sempurna tapi mampu membuatku tak berdaya, kamu yang tak sempurna tapi mampu membuatku lebih bermakna. Rasanya aku ingin kembali; menata ulang semua mimpi denganmu. Namun apa daya aku hanya mampu mengenang; mendapati kau yang telah beristri.
Aku sayang, aku cinta, aku ingin memiliki lagi. Tidak! aku cukup tahu diri.
Entah apa yang butakan hati dan pikiranku, aku masih tetap saja menanti seakan tak tahu diri, aku masih tetap saja mencinta walau tak berbalas, aku masih tetap mengagumimu yang tak pernah tahu rasa kagumku. Tapi ini tentang hati yang tak mau terganti walau telah ada dia disisi, dengan berat hati kukatakan; aku mencintaimu masalalu.

Kamis, 09 Juli 2015

Tanpa Judul

Tanpa kesengajaan haruskah kita berjumpa lagi setelah lama tak bertemu? aku tidak menginginkan pertemuan ini meski tanpa disengaja, harusnya kamu pergi jauh-jauh dari kota ini, aku tidak mungkin meninggalkan kota kelahiranku sendiri tapi kamu hanya tamu dirumahku.
Kenapa hanya menatapku dari jauh? tidak ada keberaniankah untuk menghampiri atau sekedar menyapa? ah... lelaki sepertimu mendekati bila ada maunya setelah merasa puas mencampakkanku begitu saja. Hatimu dimana? Beku? atau emang gak punya hati?
Baiklah aku mengerti. Kisah kita telah berakhir 3tahun lalu, tapi rasa ini masih tetap sama, rasa yang harusnya aku buang jauh-jauh, rasa yang seharusnya tidak aku rasakan lagi tapi sulit tuan membuang rasa sedalam ini, sulit melupakanmu yang telah membawaku jauh kedalam mimpimu.
Awalnya kamu panutan bagiku bukan hanya sekedar kekasih tapi kamu bisa sekaligus jadi kakak dan ayah untukku. Sungguh aku tak pernah menduga kamu akan menyakitiku sedalam ini, tidak ada rasa dendam dihatiku tapi aku memnyesal menilaimu sempurna dimataku. Aku kira ajakan keseriusanmu itu tulus dari hatimu nyatanya itu hanya awal penderitaanku.
Aku benci pada diriku juga pertemuan ini. Andai saja dulu kamu tak terima kertas itu, kisah kita takkan terjadi, takkan ada kita yang akhirnya menjadi aku dan kamu lagi, takkan ada sakit sedalam ini. Harusnya dari awal kamu tidak membohongiku mungkin aku sekarang sedang tertawa bahagia tanpa dihantui kenangan yang buatku menderita
Aku benci setiap pertemuan kita walau tanpa disengaja, aku benci menatapmu dari jauh, rasanya aku ingin menghampirimu dan berteriak didepanmu "KENAPA KAMU MENYAKITIKU SEDALAM INI?", aku benci pada halte yang dulu pada saat aku pulang sekolah kamu selalu menemaniku menunggu bis dan aku rela pulang kemaleman hanya untuk menunggu bis-bis lain agar bisa lebih lama denganmu, aku benci sudut kota ini yang disetiap jalannya selalu ingatkanmu, aku benci warung pinggir jalan yang dulu kamu selalu mengajakku makan dan aku rela berangkat sekolah kesiangan hanya untuk menemanimu makan, aku benci saat kamu mengajakku ke pantai, bersepeda dan berjalan-jalan dipinggir pantai setelah itu kita lupa segalanya.
Tuan, saat itu aku merasa jadi ratu dihatimu, dimanjakan olehmu, menghabiskan waktu semalam bersamamu, sungguh kamu buatku tak berdaya. Aku mencintaimu sampai akhirnya aku tahu kebohonganmu. Atas dasar apa kamu membohongiku? Apa aku pernah buatmu menunggu? Apa aku pernah buatmu kecewa? Apa aku pernah mengkhianatimu? Tidak tuan, lalu apa salahku sampai hati kamu menyakitiku seperti ini?
Aku benci saat kamu bilang kamu mencintaiku, nyatanya itu hanya kebohongan yang buatku bahagia. Aku benci pernah jatuh dipelukanmu, aku benci biarkan bibir ini dikecup olehmu, aku benci saat rasa nyaman yang kurasa ternyata pada akhirnya buatku menderita sesakit ini, aku benci biarkan diri iniberlarut-larut dalam sakit yang tak berujung, aku benci saat aku tahu kamu telah bahagia bersamanya dan aku masih mengharapkanmu dalam sakitku.
Pantaskah aku yang tidak tahu permainanmu merasakan sakit seperih ini? Pantaskah aku yang tulus mencintaimu merasakan derita yang amat luar biasa sakitnya? Harusnya aku sudah membencimu sejak kamu bilang "AKU TELAH BERISTRI..." tapi tidak semudah itu tuan membencimu yang aku cintai, tidak semudah kamu meninggalkanku. Kamu tidak pernah tahu bagaimana keadaanku setelah kepergianmu, karna memangkamu tidak pernah ingin tahu. Cinta yang katanya kamu mencintaiku itu hanya kebohongan manismu. Kamu tidak pernah tahu bagaimana aku berusaha berdiri dari keterpurukanku, kamu tidak pernah tahu berapa banyak air mata yang jatuh hanya untuk menangisimu, kamu tidak pernah tahu bagaimana aku berusaha berlari dari rindu yang kerap kali menghampiri. Kamu memang tidak peduli, kamu tidak punya hati.
Kenapa aku tidak bisa sepertimu? kenapa aku tidak bisa terlihat baik-baik saja? Kenapa aku tidak bisa sembunyikan sakitku? Kenapa hanya aku yang menderita sedangkan kamu sedang tertawa bahagia.


Dari seseorang yang kamu sakiti 3tahun lalu...