Ada rasa sakit yang tidak harus aku bicarakan. Ada rasa sesak yang tidak semestinya aku utarakan. Denganmu kuharap kamu mengerti, sebab diperlakukan kasar itu mimpi buruk yang tak ingin dialami.
Perkataan kasar yang dilontarkan sangat menyayat hati, mungkin sakitnya tidak seberapa tapi lukanya kan berbekas dan takkan terobati. Selayaknya wanita yang selalu ingin dimengerti juga diperlakukan dengan baik. Aku juga ingin seperti itu? Seperti wanita lain pada umumnya.
Hidup memang pilihan? Tentu. Sebab itu aku memilihmu sebagai teman hidupku. Semua terasa indah pada awalnya, namun dalam hitungan bulan buuuuuum.... semua berubah seperti mimpi buruk untukku.
Tak ada lagi kamu yang kukenal dulu
Tak ada lagi kamu yang seperhatian dulu
Tak ada lagi kamu yang mengerti aku
Tak ada lagi rayuanmu yang buatku terlena
Tak ada lagi kamu yang berjuang untuk pertahankan aku
Tak ada lagi kamu yang menghapus airmataku
Tak ada lagi kamu yang selalu menebar pujian dan rasa cinta
Bukankah cinta pada akhirnya juga harus indah? Lantas mengapa kini hanya cacian dan perlakuan kasar yang aku dapat? Inikah kamu yang sebenarnya? Kamu yang aku kenal 2tahun ini tidak seperti kamu yang aku kenal pada awalnya...
Bukankah cinta juga harus saling melengkapi? Menutupi kekurangan pasangan agar terlihat sempurna. Semestinya kita saling berbagi baik suka ataupun duka. Tidak salah bukan jika masalah pekerjaan aku tumpahkan padamu? Aku hanya ingin teman berbagi yang mengerti keadaanku. Teman hidupku harusnya kamu lebih peka dari orang2 disekelilingku. Harusnya kamu dengarkan keluhanku bukan seolah-olah tidak peduli.
Maaf menuntut... tapi aku lelah tuan, aku jenuh dengan segala kegiatanku, aku kecewa disaat yang kuharap begitu indah ternyata pada akhirnya hanya berlalu begitu saja. Aku muak dengan perlakuan kasarmu... buka matamu!!! Lihat kegiatanku lebih sibuk darimu, mulai bangun pagi menyiapkan semuanya untukmu, bekerja pulang sore sampai larut malam, bahkan disaat tertidurpun aku masih terjaga untukmu. Belum lagi pekerjaan rumah yang harus aku selsaikan, aku tidak mengeluh bukan? Sebab aku tau itu sudah menjadi kewajibanku.
Cukup sampai disini kamu buatku terlena lalu menghempaskanku lagi, aku lelah hatiku patah.
perempuan penikmat sepi...
Kamis, 31 Maret 2016
Pada akhirnya...
Jumat, 15 Januari 2016
Disini kumenangis disana kau tertawa - Novita dewi
Apa sebenarnya arti janji cinta yang kauberi
Bila kau tega mengkhianati
Disini kumenangis
Disana kau tertawa dengannya
Saat malam mulai gelap
Kau datang dengan perlahan
Menuju hatiku yang sepi
Saat pagi menjelang kembali pulang kau kepeluknya
kembali pulang kau kepeluknya
Tak punya hati kah dirimu kasih
atau memang kau berpikir diriku terlalu lugu
Biarlah ini semua jadi akhirnya
Disini kumenangis
Disana kau tertawa dengannya
Hancur luluh hati ini terlalu lelah kecewa
Berkali kau menyesali, berkali kau ulangi
Minggu, 10 Januari 2016
Pendusta
Kegelisahanku semakin menjadi, disaat hati tak ingin berbagi, kamu satu yang aku mau, bahkan dimadu aku tak rindu.
Perjalanan ini kau nodai, wanita dimasalalumu hadir kembali menagih janji. Ikatan yang tidak pernah aku tahu sebelumnya juga janji yang bukan hanya padaku saja kau berjanji.
Pendusta. Pembohong besar. Wanitamu bukan aku saja
Lantas apa yang kau ingini? Jika padanya kamu lebih dulu memberi janji
Bagaimana denganku? Janjimu padaku kau lupakan, ikatan denganku kau putuskan, genggaman tanganku kau lepaskan, airmataku kau abaikan, rasa sakitku kau acuhkan. Dasar pemberi harapan palsu
Minggu, 15 November 2015
Lelah hati
Sesak rasanya jika yang diharap mengerti ternyata tidak pahami maksud hati
Terimakasih untuk 2tahun ini
Terimakasih untukmu yang beri bahagia meski terselip luka
Terimakasih untuk hari terberat ini
Terimakasih untuk airmata pagi ini
Bukan maksud hati memancing emosi, hanya saja lelah hati ingin dimengerti
Selasa, 13 Oktober 2015
Aku menyerah, aku kalah
Aku menyerah, aku kalah perihal rindu yang selalu datang tanpa bisa kutahan. 2 minggu sudah kita saling berjauhan tanpa bicara meski saling menatap dari jauh. Aku masih tetap saja memperhatikanmu meski kamu tak pedulikanku. Aku masih mencarimu jika tak kutemui dirimu. Aku kehilanganmu sungguh, tak ada lagi warna disetiap hariku. Kini kamu menjauh tak bisa kusentuh tak dapat kutatap.
Apa mungkin kamu mengamini ucapanku waktu itu yang kan berusaha berjarak denganmu. Nyatanya aku yang kalah, aku menyerah, rindu ini menyiksa.
Tuan jujur saja kenyataannya aku tidak bisa berjarak denganmu. Entahlah... Tapi didekatmu semua terasa indah, didekatmu beban hidup terasa lebih ringan, didekatmu airmata mampu kutahan.
Sore itu aku ingin sekali menyapamu, meski hanya sekedar berkata "Hai.." bisa saja dengan sapaan singkatku kita bicara lebih jauh lagi, aku yang menanyakan bagaimana keadaanmu dan berita tentangmu yang katanya sampai masuk rumah sakit juga denganmu yang menanyakan bagaimana denganku tanpamu 2minggu ini. Nyatanya kamu tidak menyapaku lebih awal juga denganku yang hanya menunggu sapaanmu. Kamu menatap tanpa bicara, sedangkan aku yang pura-pura tidak melihatmu dan sibuk dengan kerudungku. Kita duduk diwarung yang sama tetapi beda ruang. Aku menunggumu menghampiri nyatanya kamu mendiamkanku sampai aku pergi.
Aku tahu kamu baru sembuh dari penyakitmu, aku tahu kamu masuk rumah sakit sampai harus dirawat, ketika aku tahu rasanya aku ingin sekali menjengukmu, aku ingin menemanimu, aku ingin merawatmu sampai kamu sembuh dari sakitmu, sampai kamu beraktivitas lagi seperti biasanya.
Tapi apa daya aku bukan siapa-siapa sebab disana ada yang lebih berhak akan dirimu, disana ada seorang istri yang mencintaimu dan sedang mengandung benihmu. Sedangkan aku bukan siapa-siapamu. Aku hanya wanita yang kamu bohongi juga kamu tinggalkan, aku hanya wanita yang masih menjaga rasa, hati yang kamu lukai. Sebab tak ada arti merawat rasa yang sudah tak berasa, sebab percuma semua telah berlalu dan hanya bekaskan luka.
Jikapun aku bisa meminta pada Allah, aku ingin menghapus namamu dalam ingatanku, aku ingin melupakan semua kenangan yang telah berlalu bersamamu. Sebab disini aku yang menderita karna rindu dan rasa yang seharusnya sudah tidak aku rasa. Sebab kenyataannya lebih sakit dari mimpi yang pernah kita ukir.
Kenangan itu selalu datang begitu saja tanpa aku ingini, ia mampu meluluhkan lagi hati, ia mampu membuat mata menetes dan terus berurai, ia mampu hadirkan lagi sakit seperti pertama kali ditinggalkan, ia kejam sama sepertimu.
Kamis, 10 September 2015
Ketika Rasa Nyaman Mampu Membuat Lupa
Aku masih tersenyum bahagia atas apa yang kulewati semalam bersamamu, kamu mampu membuatku terjatuh dipelukanmu. Aku menyukaimu dan saat bersamamu itulah bahagiaku. Kau genggam erat tanganku, kau kecup bibir ini, kau bisikan I Love You ditelingaku. Kamu buatku tak berdaya, kamu buatku tak mampu berkata, kamu berkuasa semalam, kamu lelakiku dan aku wanitamu yang sedang kau manjakan.
Pantai ini jadi saksi bisu atas apa yang kita lewati, disini ketika aku dibuat tak berdaya olehmu.
Kamu ajak aku bersepeda ditepi pantai, kamu buatku tertawa bahagia. Setelah lelah berputar-putar akhirnya kamu menyerah mengajakku ketepian. Kita saling memandang, kita duduk diatas sepeda motor yang sama merasakan udara malam, menatap langit yang penuh bintang, memandang pantai yang membentang kamu peluk aku dari belakang.
Kita saling menuliskan nama diatas pasir yang sama, kita saling berkejaran bermain air dan saling membasahi. Aku menikmati setiap kebersamaan kita, yang kurasakan berbeda nyaman ketika berada dipelukmu. Meski sebenarnya perkenalan kita baru dimulai juga hubungan ini.
Aku tidak melihatmu sebagai orang asing, meski kenyataannya kita memang orang asing yang belum lama kenal, yang kurasa kamu lelakiku yang kumiliki bertahun-tahun lamanya, kamu melengkapi hidupku. Dan aku percaya kamu memang diciptakan untukku. Selalu kupanjatkan doa agar kebersamaan kita tetap terjaga, selalu kuberharap agar kita selalu bersama.
Kita berjarak untuk beberapa hari sebab kamu pulang ke kotamu, aku tidak berpikir jelek tentangmu, aku percaya karna rasa nyaman yang aku rasa. Nyatanya aku keliru, 2hari tak ada kabar darimu, kamu menghilang. Aku mencoba menghubungimu tapi sia-sia, percuma sebab aku tak temukan jejakmu. Aku terdiam, membisu dengan pikiran buntu. Aku dilema yang kurasa tak karuan, bahagia juga derita. Bahagia karna masih mengingat yang kita lewati, derita karna pengabaianmu. Diammu adalah siksa untukku.
Seperti menelan pil pahit aku harus terima pengakuan, kenyataannya kamu telah berdua. Aku terjatuh, aku terpuruk, aku tersudutkan, aku tak mampu berdiri, aku lemah hatiku patah. Aku tak tahu lagi apa yang harus kulakukan, kenyataan ini menyisakan luka dihati, Mata ini tak mau berhenti menangis, hati seperti tertusuk belati, mulut bungkam tak mampu berkata, satu yang ada dibenakku KAMU KEJAM.
Ketika rasa nyaman mampu membuat lupa, kamu melupa seolah-olah hanya aku saja yang kamu cinta, nyatanya seseorang diujung sana memilikimu seutuhnya, kamu kembali meninggalkanku seorang diri.
Kamu melupa karna rasa nyaman yang kuberi, kamu melupa dan kamu berpura-pura cinta, kamu berpura-pura dan aku menjerit menderita. Terimakasih seseorang yang melupa dan menyisakan luka, semoga yang kamu rasa berbeda tidak seperti aku yang menderita.
Sabtu, 29 Agustus 2015
Noda Diatas Lembar Putih
Aku tahu cincin yang melingkar dijari manismu itu pertanda bahwa kamu telah berdua, tapi aku seolah-olah tidak ingin tahu sebab aku terlanjur mencinta. Kehilafan itu menjadi cambuk untukku, aku tidak bisa berlari menjauh darimu, sering kali kucoba tapi tetap saja aku ingin kembali. Jiwaku seperti terikat olehmu, ragaku tak ingin pergi menjauh darimu.
Yang kurasa kita masih saling memiliki, meski kutahu itu hanya mimpi. Kebersamaan kita terulang, entah sampai kapan? Entah siapa nantinya yang kan sakit hati, juga entah siapa yang meninggalkan luka. Aku tidak peduli perihal itu, yang kurasa kini hanya kenyamanan berada disisimu lagi, kamu seolah-olah membawaku kembali pada masa dimana hanya ada aku dan kamu. Jika sudah begini rasanya hanya aku saja yang memilikimu, bersamamu waktu terasa cepat berlalu.
Aku tidak ingin disebut perempuan penggoda, aku tidak ingin disebut perempuan perusak sebab kamu yang mendekatiku lagi, kamu yang membawaku kembali, kamu yang ingin mengulang padahal sebenarnya aku sudah tidak sanggup mengenang sebab kisah ini telah berlalu dan takkan terulang tapi rasa sayang kan tetap menetap tinggal.
Menyenangkan rasanya berada disampingmu lama-lama, tapi aku benci ketika kamu membahas dia dalam perbincangan kita, rasanya aku ingin berlari saat itu juga daripada harus mendengarkan celotehanmu yang menyayat hati. Waktu bersama hanya sebentar kenapa tak coba membahas yang buatku terlena. Kenapa harus membahas istrimu, sengajakah supaya aku sadar? Bukan seperti itu untuk menyadarkanku tuan, bukan dengan membahas istrimu sebab tanpa kamu membahasnya aku sudah sadar dan mengerti. Aku cukup tahu diri, aku hanya orang asing yang mencoba masuk kedalam kehidupanmu tak semestinya berbagi hati denganmu. Aku tahu pada akhirnya kamu kan mencampakanku lagi, sama seperti dulu. Aku tahu pada akhirnya kamu kan meninggalkanku lalu kembali pada istrimu. Aku tahu pada akhirnya kamu kan bekaskan luka dan kenangan, dan pada akhirnya aku mengerti aku hanya noda diatas lembar putih.