Selasa, 23 April 2013

Aku, Kamu dan Kisah ini ...


Kamu masih menanyakan bagaimana hubungan kita?
Sudahlah tak usah kamu pikirkan aku, aku baik-baik saja juga hubungan ini …
Pergilah! Kamu mencintai wanitamu
Bukankah itu kebahagiaan untukmu juga wanitamu?
Aku tidak melepaskanmu, juga tidakmengiklhaskanmu
Aku hanya membiarkanmu bahagia dengan wanita pilihanmu
Tak usah kau ucapkan putus padaku!
Karena aku tak sanggup mendengarnya
Biarkanlah aku bahagia dengan hubungan yang tak berujung ini …
Meski di dalamnya tanpamu, dan hanya ada kenangan bersamamu
Aku bahagia jika kamu bahagia, meski bukan karenaku
Aku benci mengakuinya, tapi aku mencintaimu …
Kelak jika suatu saat nanti kamu terluka karenanya,
Tak usah kamu malu… pulanglah padaku!
Aku masih untukmu …
Aku masih milikmu …
Juga hubungan ini masih tentang kita berdua …
Kamu dan aku …
Jika, dan perjalanan ini …
Mungkin aku kehilangan dirimu,
Tapi aku tidak kehilangan pelukmu, rindumu, juga kasihmu
Yang masih bisa kurasakan …




Senin, 15 April 2013

Inilah Caraku Mencintaimu



Dengan tak menghubungimu,
tak juga mengirim pesan untuk
menanyakan kabarmu.
Mungkin ini tak biasa,
Tapi bagiku,
Inilah cara terbaik mencintaimu.
Aku mencintaimu dengan menjauh
darimu,
Bukan karena aku membencimu,
Justru karena aku sangat mencintaimu,
Dan aku ingin menjagaku juga
menjagamu,
Menjaga tulusnya hatimu, juga
menjaga kesucian hatiku.
Inilah caraku mencintaimu,
Dalam diamku,
Dalam ketulusanku,
dalam kesucianku,
dalam cara tak biasaku,
Meski sulit,
Meski berat,
Meski sakit untukku,
namun ku tahu ini pilihan terbaik agar
kita tak terlalu saling mengharap.
Karena berharap hanya pantas pada
Sang Pemberi Nafas,
Karena berharap hanya pantas
digantungkan pada Sang Pengatur
Detak Jantung,
PadaNya kuharap Dia khan menjagamu
untukku,
PadaNya kutitipkan hatimu,
Biarlah ku hanya bisa menyapamu
lewat senandung do'a,
Agar Untukmulah segala kebaikan,
Agar bersamamulah segala keindahan.

Sumber: Zodiak Harian

Minggu, 14 April 2013

Bukan Wanita Simpanan …

“Apa kau sudah beristri, dave?” tanyaku padanya siang itu … Dave mengabaikanku, seolah-olah dia tidak mendengar apa yg aku bicarakan, dia hanya diam membisu . “Jawab dave! Apa benar wanita yg tadi menelpon itu istrimu?”
“Kenapa kau menanyakan hal itu?” tanyanya …
“Jawab saja Iya atau Tidak? Aku hanya butuh pengakuanmu dave …”
Dave menatapku, lalu menghela nafas “Aku minta maaf, na. Aku tidak bermaksud membohongimu”
“Jadi benar wanita itu istrimu?”
“Ya…” jawabnya singkat
“Lantas kenapa kau tak pernah jujur padaku, dave?”
“Aku takut menyakitimu, na …”
“Kau pikir dengan begini aku bahagia? Tidak. Kalau saja dari awal kau menceritakan semuanya, mungkin semuanya takkan seperti ini …”
“Maaf, na. Aku benar-benar menyesal …”
“Tak ada gunanya kau menyesal sekarang, dave. Semuanya telah terjadi … Lalu bagaimana dengan hubungan kita? Juga istrimu? Apa kau masih mencintainya?”
“Tidak untuk sekarang, aku terlanjur mencintaimu, na …”
“Lalu apa yg kan kau lakukan sekarang?”
“Sudahlah jangan terus kau pojokan aku dengan semuan pertanyaan-pertanyaanmu itu.
“Baiklah, terserahmu, dave …”

Sabtu malam dave datang ke apartement-ku, aku tidak mengabaikannya juga tidak mengusirnya … Aku masih seperti biasanya seolah-olah tidak terjadi apa-apa. Dave yg masih kekasihku, meskipun aku tahu dia telah beristri .
“Bagaimana kabarmu, na?” pertanyaan yg dave lontarkan beberapa menit setelah kebisuannya .
“Seperti yg kamu lihat dave, aku baik-baik saja…”
Dia terlihat lelah, wajahnya pun pucat . “Kau Nampak bebeda dave, kau sakit?” aku masih peduli padanya meskipun dia telah membohongiku … “Aku hanya kecapean…” jawabnya

Dave membaringkan tubuhnya diatas sofa, aku duduk disamping dia dan membawa teh hangat untuknya . “Ini minumlah…” sambil menyodorkan cangkir
“Na, apakah kau masih mencintaiku setelah apa yg ku lakukan padamu”
“Ya, tentu saja dave …”
7 menit berlalu, setelah aku menjawab pertanyaanya . Dave kembali membaringkan tubuhnya dengan posisi kepala diatas pangkuannku .
“Bagaimana dengan istrimu, dave?” aku kembali memulai perbincangan kita, dave belum menjawab sepatah kata pun …  dengan sabar aku menunggunya berbicara .
“Aku akan menceraikannya, na”
“Apa kau yakin dave dengan tindakanmu itu?”
“Aku yakin, na. Setelah itu aku akan menikahimu…”
“Jadi kau lebih memilihku daripada istrimu…”
“Ya, tentu ..”

Harusnya aku bahagia saat itu, tapi entah aku merasakan sesuatu yg lain dihatiku mungkin aku ragu…
Dave beranjak bangun dan meneguk kembali teh hangatnya… dia tak lagi membaringkan tubuhnya, dia lebih memilih duduk disampingku. Dia menggenggam tanganku lalu menatapku .
“Apa kau sudah tidak mempercayaiku, na?
Seketika aku terdiam, beberapa detik berlalu, aku belum menjawab apapun, aku hanya menatapnya dengan tatapan penuh harap …
“Entahlah… aku harus mempercayaimu atau tidak, aku ragu dave…”
“Dengar, na. Aku mencintaimu, sungguh! Aku meninggalkan istriku untuk bersamamu, apa itu semua belum bisa meyakinkanmu?”
Sejenak aku terdiam dan mencoba mencari jawaban yg tepat …
“Bagaimana aku akan mempercayaimu,dave. Istrimu saja kau khianati apalagi aku yg hanya kekasihmu. Aku takut kau meninggalkanku, seperti yg kau lakukan pada istrimu, sekarang . Aku belum siap kehilanganmu …”
Keheningan terjadi setelah perbincangan kita …

Waktu menunjukan pukul 22.02

“Aku malas pulang, malam ini aku menginap disini” Ucapnya sambil membaringkan tubuh.

Kepercayaan itu sulit dibangun, sekalinya roboh, hancurlah sudah …

                                                                            Selsai…