“Apa kau sudah
beristri, dave?” tanyaku padanya siang itu … Dave mengabaikanku, seolah-olah
dia tidak mendengar apa yg aku bicarakan, dia hanya diam membisu . “Jawab dave!
Apa benar wanita yg tadi menelpon itu istrimu?”
“Kenapa kau
menanyakan hal itu?” tanyanya …
“Jawab saja Iya atau
Tidak? Aku hanya butuh pengakuanmu dave …”
Dave menatapku, lalu
menghela nafas “Aku minta maaf, na. Aku tidak bermaksud membohongimu”
“Jadi benar wanita
itu istrimu?”
“Ya…” jawabnya
singkat
“Lantas kenapa kau
tak pernah jujur padaku, dave?”
“Aku takut
menyakitimu, na …”
“Kau pikir dengan
begini aku bahagia? Tidak. Kalau saja dari awal kau menceritakan semuanya,
mungkin semuanya takkan seperti ini …”
“Maaf, na. Aku
benar-benar menyesal …”
“Tak ada gunanya kau
menyesal sekarang, dave. Semuanya telah terjadi … Lalu bagaimana dengan
hubungan kita? Juga istrimu? Apa kau masih mencintainya?”
“Tidak untuk
sekarang, aku terlanjur mencintaimu, na …”
“Lalu apa yg kan kau
lakukan sekarang?”
“Sudahlah jangan
terus kau pojokan aku dengan semuan pertanyaan-pertanyaanmu itu.
“Baiklah,
terserahmu, dave …”
Sabtu malam dave
datang ke apartement-ku, aku tidak
mengabaikannya juga tidak mengusirnya … Aku masih seperti biasanya seolah-olah
tidak terjadi apa-apa. Dave yg masih kekasihku, meskipun aku tahu dia telah
beristri .
“Bagaimana kabarmu,
na?” pertanyaan yg dave lontarkan beberapa menit setelah kebisuannya .
“Seperti yg kamu
lihat dave, aku baik-baik saja…”
Dia terlihat lelah,
wajahnya pun pucat . “Kau Nampak bebeda dave, kau sakit?” aku masih peduli
padanya meskipun dia telah membohongiku … “Aku hanya kecapean…” jawabnya
Dave membaringkan
tubuhnya diatas sofa, aku duduk disamping dia dan membawa teh hangat untuknya .
“Ini minumlah…” sambil menyodorkan cangkir
“Na, apakah kau
masih mencintaiku setelah apa yg ku lakukan padamu”
“Ya, tentu saja dave
…”
7 menit berlalu,
setelah aku menjawab pertanyaanya . Dave kembali membaringkan tubuhnya dengan
posisi kepala diatas pangkuannku .
“Bagaimana dengan
istrimu, dave?” aku kembali memulai perbincangan kita, dave belum menjawab
sepatah kata pun … dengan sabar aku
menunggunya berbicara .
“Aku akan
menceraikannya, na”
“Apa kau yakin dave
dengan tindakanmu itu?”
“Aku yakin, na.
Setelah itu aku akan menikahimu…”
“Jadi kau lebih
memilihku daripada istrimu…”
“Ya, tentu ..”
Harusnya aku bahagia
saat itu, tapi entah aku merasakan sesuatu yg lain dihatiku mungkin aku ragu…
Dave beranjak bangun
dan meneguk kembali teh hangatnya… dia tak lagi membaringkan tubuhnya, dia
lebih memilih duduk disampingku. Dia menggenggam tanganku lalu menatapku .
“Apa kau sudah tidak
mempercayaiku, na?
Seketika aku
terdiam, beberapa detik berlalu, aku belum menjawab apapun, aku hanya
menatapnya dengan tatapan penuh harap …
“Entahlah… aku harus
mempercayaimu atau tidak, aku ragu dave…”
“Dengar, na. Aku
mencintaimu, sungguh! Aku meninggalkan istriku untuk bersamamu, apa itu semua
belum bisa meyakinkanmu?”
Sejenak aku terdiam
dan mencoba mencari jawaban yg tepat …
“Bagaimana aku akan
mempercayaimu,dave. Istrimu saja kau khianati apalagi aku yg hanya kekasihmu.
Aku takut kau meninggalkanku, seperti yg kau lakukan pada istrimu, sekarang .
Aku belum siap kehilanganmu …”
Keheningan terjadi
setelah perbincangan kita …
Waktu menunjukan pukul 22.02
“Aku malas pulang,
malam ini aku menginap disini” Ucapnya sambil membaringkan tubuh.
Kepercayaan itu sulit dibangun, sekalinya
roboh, hancurlah sudah …
Selsai…