Minggu, 14 April 2013

Bukan Wanita Simpanan …

“Apa kau sudah beristri, dave?” tanyaku padanya siang itu … Dave mengabaikanku, seolah-olah dia tidak mendengar apa yg aku bicarakan, dia hanya diam membisu . “Jawab dave! Apa benar wanita yg tadi menelpon itu istrimu?”
“Kenapa kau menanyakan hal itu?” tanyanya …
“Jawab saja Iya atau Tidak? Aku hanya butuh pengakuanmu dave …”
Dave menatapku, lalu menghela nafas “Aku minta maaf, na. Aku tidak bermaksud membohongimu”
“Jadi benar wanita itu istrimu?”
“Ya…” jawabnya singkat
“Lantas kenapa kau tak pernah jujur padaku, dave?”
“Aku takut menyakitimu, na …”
“Kau pikir dengan begini aku bahagia? Tidak. Kalau saja dari awal kau menceritakan semuanya, mungkin semuanya takkan seperti ini …”
“Maaf, na. Aku benar-benar menyesal …”
“Tak ada gunanya kau menyesal sekarang, dave. Semuanya telah terjadi … Lalu bagaimana dengan hubungan kita? Juga istrimu? Apa kau masih mencintainya?”
“Tidak untuk sekarang, aku terlanjur mencintaimu, na …”
“Lalu apa yg kan kau lakukan sekarang?”
“Sudahlah jangan terus kau pojokan aku dengan semuan pertanyaan-pertanyaanmu itu.
“Baiklah, terserahmu, dave …”

Sabtu malam dave datang ke apartement-ku, aku tidak mengabaikannya juga tidak mengusirnya … Aku masih seperti biasanya seolah-olah tidak terjadi apa-apa. Dave yg masih kekasihku, meskipun aku tahu dia telah beristri .
“Bagaimana kabarmu, na?” pertanyaan yg dave lontarkan beberapa menit setelah kebisuannya .
“Seperti yg kamu lihat dave, aku baik-baik saja…”
Dia terlihat lelah, wajahnya pun pucat . “Kau Nampak bebeda dave, kau sakit?” aku masih peduli padanya meskipun dia telah membohongiku … “Aku hanya kecapean…” jawabnya

Dave membaringkan tubuhnya diatas sofa, aku duduk disamping dia dan membawa teh hangat untuknya . “Ini minumlah…” sambil menyodorkan cangkir
“Na, apakah kau masih mencintaiku setelah apa yg ku lakukan padamu”
“Ya, tentu saja dave …”
7 menit berlalu, setelah aku menjawab pertanyaanya . Dave kembali membaringkan tubuhnya dengan posisi kepala diatas pangkuannku .
“Bagaimana dengan istrimu, dave?” aku kembali memulai perbincangan kita, dave belum menjawab sepatah kata pun …  dengan sabar aku menunggunya berbicara .
“Aku akan menceraikannya, na”
“Apa kau yakin dave dengan tindakanmu itu?”
“Aku yakin, na. Setelah itu aku akan menikahimu…”
“Jadi kau lebih memilihku daripada istrimu…”
“Ya, tentu ..”

Harusnya aku bahagia saat itu, tapi entah aku merasakan sesuatu yg lain dihatiku mungkin aku ragu…
Dave beranjak bangun dan meneguk kembali teh hangatnya… dia tak lagi membaringkan tubuhnya, dia lebih memilih duduk disampingku. Dia menggenggam tanganku lalu menatapku .
“Apa kau sudah tidak mempercayaiku, na?
Seketika aku terdiam, beberapa detik berlalu, aku belum menjawab apapun, aku hanya menatapnya dengan tatapan penuh harap …
“Entahlah… aku harus mempercayaimu atau tidak, aku ragu dave…”
“Dengar, na. Aku mencintaimu, sungguh! Aku meninggalkan istriku untuk bersamamu, apa itu semua belum bisa meyakinkanmu?”
Sejenak aku terdiam dan mencoba mencari jawaban yg tepat …
“Bagaimana aku akan mempercayaimu,dave. Istrimu saja kau khianati apalagi aku yg hanya kekasihmu. Aku takut kau meninggalkanku, seperti yg kau lakukan pada istrimu, sekarang . Aku belum siap kehilanganmu …”
Keheningan terjadi setelah perbincangan kita …

Waktu menunjukan pukul 22.02

“Aku malas pulang, malam ini aku menginap disini” Ucapnya sambil membaringkan tubuh.

Kepercayaan itu sulit dibangun, sekalinya roboh, hancurlah sudah …

                                                                            Selsai…

Tidak ada komentar:

Posting Komentar