Tanpa kesengajaan haruskah kita berjumpa lagi setelah lama tak bertemu? aku tidak menginginkan pertemuan ini meski tanpa disengaja, harusnya kamu pergi jauh-jauh dari kota ini, aku tidak mungkin meninggalkan kota kelahiranku sendiri tapi kamu hanya tamu dirumahku.
Kenapa hanya menatapku dari jauh? tidak ada keberaniankah untuk menghampiri atau sekedar menyapa? ah... lelaki sepertimu mendekati bila ada maunya setelah merasa puas mencampakkanku begitu saja. Hatimu dimana? Beku? atau emang gak punya hati?
Baiklah aku mengerti. Kisah kita telah berakhir 3tahun lalu, tapi rasa ini masih tetap sama, rasa yang harusnya aku buang jauh-jauh, rasa yang seharusnya tidak aku rasakan lagi tapi sulit tuan membuang rasa sedalam ini, sulit melupakanmu yang telah membawaku jauh kedalam mimpimu.
Awalnya kamu panutan bagiku bukan hanya sekedar kekasih tapi kamu bisa sekaligus jadi kakak dan ayah untukku. Sungguh aku tak pernah menduga kamu akan menyakitiku sedalam ini, tidak ada rasa dendam dihatiku tapi aku memnyesal menilaimu sempurna dimataku. Aku kira ajakan keseriusanmu itu tulus dari hatimu nyatanya itu hanya awal penderitaanku.
Aku benci pada diriku juga pertemuan ini. Andai saja dulu kamu tak terima kertas itu, kisah kita takkan terjadi, takkan ada kita yang akhirnya menjadi aku dan kamu lagi, takkan ada sakit sedalam ini. Harusnya dari awal kamu tidak membohongiku mungkin aku sekarang sedang tertawa bahagia tanpa dihantui kenangan yang buatku menderita
Aku benci setiap pertemuan kita walau tanpa disengaja, aku benci menatapmu dari jauh, rasanya aku ingin menghampirimu dan berteriak didepanmu "KENAPA KAMU MENYAKITIKU SEDALAM INI?", aku benci pada halte yang dulu pada saat aku pulang sekolah kamu selalu menemaniku menunggu bis dan aku rela pulang kemaleman hanya untuk menunggu bis-bis lain agar bisa lebih lama denganmu, aku benci sudut kota ini yang disetiap jalannya selalu ingatkanmu, aku benci warung pinggir jalan yang dulu kamu selalu mengajakku makan dan aku rela berangkat sekolah kesiangan hanya untuk menemanimu makan, aku benci saat kamu mengajakku ke pantai, bersepeda dan berjalan-jalan dipinggir pantai setelah itu kita lupa segalanya.
Tuan, saat itu aku merasa jadi ratu dihatimu, dimanjakan olehmu, menghabiskan waktu semalam bersamamu, sungguh kamu buatku tak berdaya. Aku mencintaimu sampai akhirnya aku tahu kebohonganmu. Atas dasar apa kamu membohongiku? Apa aku pernah buatmu menunggu? Apa aku pernah buatmu kecewa? Apa aku pernah mengkhianatimu? Tidak tuan, lalu apa salahku sampai hati kamu menyakitiku seperti ini?
Aku benci saat kamu bilang kamu mencintaiku, nyatanya itu hanya kebohongan yang buatku bahagia. Aku benci pernah jatuh dipelukanmu, aku benci biarkan bibir ini dikecup olehmu, aku benci saat rasa nyaman yang kurasa ternyata pada akhirnya buatku menderita sesakit ini, aku benci biarkan diri iniberlarut-larut dalam sakit yang tak berujung, aku benci saat aku tahu kamu telah bahagia bersamanya dan aku masih mengharapkanmu dalam sakitku.
Pantaskah aku yang tidak tahu permainanmu merasakan sakit seperih ini? Pantaskah aku yang tulus mencintaimu merasakan derita yang amat luar biasa sakitnya? Harusnya aku sudah membencimu sejak kamu bilang "AKU TELAH BERISTRI..." tapi tidak semudah itu tuan membencimu yang aku cintai, tidak semudah kamu meninggalkanku. Kamu tidak pernah tahu bagaimana keadaanku setelah kepergianmu, karna memangkamu tidak pernah ingin tahu. Cinta yang katanya kamu mencintaiku itu hanya kebohongan manismu. Kamu tidak pernah tahu bagaimana aku berusaha berdiri dari keterpurukanku, kamu tidak pernah tahu berapa banyak air mata yang jatuh hanya untuk menangisimu, kamu tidak pernah tahu bagaimana aku berusaha berlari dari rindu yang kerap kali menghampiri. Kamu memang tidak peduli, kamu tidak punya hati.
Kenapa aku tidak bisa sepertimu? kenapa aku tidak bisa terlihat baik-baik saja? Kenapa aku tidak bisa sembunyikan sakitku? Kenapa hanya aku yang menderita sedangkan kamu sedang tertawa bahagia.
Dari seseorang yang kamu sakiti 3tahun lalu...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar